ANTARA YANG LAZIM DAN YANG BENAR

Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang harus dipelajari di setiap jenjang pendidikan. Karena pentingnya menguasai bahasa Indonesia, pelajaran ini diberikan sedini mungkin, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi. Bahkan, pelajaran bahasa Indonesia tergolong mata pelajaran yang memiliki porsi cukup banyak daripada pelajaran lain. Di SMK TI Bali Global Singaraja misalnya, pelajaran ini mencapai empat sampai lima jam perminggu dengan harapan agar siswa mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Namun kenyataanya, banyak siswa yang belum mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Hal itu tentu disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kesalahan berbahasa. Selama ini, yang menyebabkan terjadinya kesalahan berbahasa ialah kebiasaan dan pembiaran kesalahan itu terjadi, sehingga antara yang lazim dan yang benar tidak dihiraukan lagi. Berikut ini akan dijabarkan secuil kesalahan berbahasa di lingkungan sekolah.

  • Yang lazim : absensi
  • Yang benar : presensi

Kata absensi sudah tidak asing lagi di lingkungan sekolah. Banyak siswa/guru yang menggunakan kata absensi untuk mendata kehadiran siswa di kelas. Sesungguhnya, yang ingin didata itu adalah kehadiran siswa. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata absen berarti tidak masuk (izin/sakit/alpa). Begitu juga dengan kata absensi yang berarti ketidakhadiran. Berbeda dengan kata presensi, kata presensi berarti kehadiran. Maka dari itu, untuk menyatakan kehadiran siswa, mari kita gunakan kata presensi.

  • Yang lazim : legalisir
  • Yang benar: legalisasi

Kita sering mendengar siswa kelas XII ingin melegalisir ijazah atau rapornya ke ruang tata uasaha, kata melegalisir adalah bentukan kata yang salah.  Kesalahan tersebut karena kekeliruan dalam menggunakan akhiran. Akhiran –ir tidak ada dalam kaidah bahasa Indonesia. Yang ada hanyalah akhiran –an, -I, nya-, kan dan akhiran serapan –asi dan –isasi. Maka dari itu, penggunaan kata yang tepat adalah legalisasi, begitu juga dengan kata memproklamasikan, mengorganisasikan, meminimalisasi, dan menetralisasi.

  • Yang lazim: notulen
  • Yang benar: notula

Dalam acara rapat atau beridskusi dalam debat maupun presentasi, biasanya dibutuhkan seseorang sebagai pencatat jalannya rapat atau mencatat hasil diskusi yang disebut dengan notulis. Hasil catatan itu disebut dengan notula, bukan notelen. Notulen merupakan bentuk tidak baku dari notula.

  • Yang lazim : mempesona
  • Yang benar : memesona

Dalam tata bahasa Indonesia, ada beberapa kata dasar yang apabila diberi imbuhan me- akan tetap utuh. Namun, ada pula kata dasar setelah diberikan imbuhan, huruf pertama pada kata tersebut melebur.

Setiap kata dasar yang diawali dengan huruf K, T, S, P akan melebur apabila diberi imbuhan me

Contoh:

me + kunci = mengunci

me + keras = mengeras

me + tutup = menutup

me + taat + i = menaati

me + sapu = menyapu

me + sayang + i = menyayangi

me + pesona = memesona

me + peduli+ kan = memedulikan

Berdasarkan kaidah di atas, ada tiga bentuk pengecualian yaitu sebagai berikut.

  1. Imbuhan me- + punya = mempunyai. Kata tersebut tidak melebur karena terbentuk dari kata dasar empu, bukan punya, walau kata tersebut merupakan turunan dari kata punya. Dalam KBBI juga dijelaskan kata mempunyai adalah bentuk baku.
  2. Kata kaji jika diberikan imbuan me– semestinya menjadi mengaji. Namun, khusus kata ini, tidak mengalami peleburan karena kata mengaji memiliki makna khusus dalam umat agama Islam sehingga kata baku yang tepat adalah mengkaji.
  3. Kata berkluster (kata yang diawali dengan kelompok konsonan) apabila ditambah imbuhan me-, maka kata yang mengikutinya tidak melebur. Contoh: memproses, mengkritik, memprogram, menkristal, dll.
  • Yang lazim : Siapa namanya Nak?
  • Yang benar : Siapa namamu Nak?

Sering kita temui bahkan kadang-kadang kita sendiri salah kaprah dalam pemakaian kata ganti orang. Kata ganti –nya pada kata namanya itu merujuk ke orang ketiga. Kalau kita artikan secara cermat, maka artinya akan menjadi “Siapa nama dia?” padahal kita ingin menanyakan nama dari si anak yang kita ajak berbicara (orang kedua).

  • Yang lazim : diantara
  • Yang benar : di antara

Kata depan di merupakan salah satu kata depan yang menunjukkan tempat. Dalam penulisannya, kata depan dipisah dengan kata yang mengikutinya. Contoh: di antara, di meja, di dalam, di samping, dll (kata-kata tersebut berfungsi sebagai keterangan dalam kalimat).

Sedangkan, di- sebagai imbuhan, penulisanya digabung dengan kata dasar yang mengikutinya. Contoh: dimakan, dinanti, dipandang, dibuka, dijual, dihina, dll (berfungsi sebagai kata kerja pasif).

Demikian enam kesalahan yang sering ditemui di lingkungan sekolah. Walau bahasa Indonesia sering kita ucapkan sehari-hari sebagai bahasa pergaulan, jangan pernah merehkan pelajaran bahasa Indonesia karena masih banyak kaidah dan tata bahasa Indonesia yang perlu kita pahami agar mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Pelajari juga penulisan daftar pustaka.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *